Berubah
(Oleh : D. Z./08)
Sudah jam sembilan malam lebih lima belas menit. Tubuh Dita sudah lelah,
matanya pun sudah mulai memerah, tetapi ia memaksakan dirinya untuk terus
menonton film disney kesukaannya di laptop warna putih susu miliknya. Ia penasaran
akhir ceritanya.
“Dita, sudah jam berapa ini? Ayo cepat tidur!!” Mama mengagetkanku.
“Aaah, Iya iya sebentar lagi Maa” jawab Dita kesal.
“Dita kalau kamu tidurnya kemalaman terus besok dibangunin masih ngantuk
pasti kamu kesal kan?” kata Mama lagi.
“Lalu, nanti kamu berangkat sekolah sambil marah-marah”
Dita terpaksa mematikan laptopnya dan tidur. Mama pun mematikan lampu kamar
Dita lalu pergi menutup pintu dengan rapat. Setelah mendengarkan dengan
seksama, dan yakin kalau semua orang sudah tidur, Dita meraih hpnya di meja
sisi tempat tidurnya. Lalu, ia bermain game. Uuuh, sebenarnya Dita sudah sangat
terkantuk-kantuk tapi ia enggan tidur. Waktu
sudah menunjukkan jam dua belas kurang lima menit saat Dita melirik jam dinding
miliknya.
Tepat seperti perkiraan Mama, Dita kesal dan marah-marah saat dibangunkan
esok paginya.
“Aaah, lima menit lagi Maa. Aku kan masih ngantuk” Dita menarik selimut.
Tetapi Mama menarik lagi selimutnya dan memaksanya bangun.
“Lihat jamnya, sekarang sudah pukul enam. Kamu bisa terlambat” kata Mama
dengan nada tinggi.
Dengan cemberut, Dita pun bangun. Setelah selesai mandi dan bersiap ia pun
berangkat sekolah dengan mata masih mengantuk. Dita sarapan beberapa sendok
saja, itu pun disuapi Mama sambil ia bersiap tadi. Tapi tadi ia belum sempat
minum, hatinya pun kesal.
Dita pergi ke halte bus. Hufttt, karena ini awal tahun ajaran baru bus pun
penuh semua. Terpaksa Dita menunggu, sudah tiga bus lewat tapi ia tidak bisa
naik saking penuhnya. Rasa kesalnya bertambah. Dua anak yang mungkin seumuran
dengan Dita ikut duduk di halte. Mereka bercanda tawa dengan suara yang keras. Mereka mengganggu sekali, cepatlah pergi
dari sini, umpat Dita dalam hati.
Sesampai di sekolah, ternyata belum terlambat. Dita sangat lega.
“Oh ya, aku kan punya biskuit yang belum aku makan kemarin” gumam Dita
membayangkan rasa laparnya bisa teratasi dengan biskuit cokelat yang lezat.
Kelasnya berada di lantai dua, ia harus menaiki tangga. Dita, ayo semangat kamu pasti bisa mencapai
puncaknya, ucapnya dalam hati. Hal yang paling menyebalkan bagi Dita adalah
naik turun tangga. Deg! Dita terkejut dan refleks membalikkan badannya.
“Ya La? Kamu ikut kelompok tugas bahasa indonesia sama aku saja, Risa dan
Fata juga ikut. Daripada dengan Dita. Dita itu kan nggak pernah kerja,
main-main terus” terdengar suara Fyi.
“Yaaa, kan, enggak enak kalau aku enggak ngajak Dita..” kata Lala, teman
sebangku Dita.
“Aaah, biarin. Dia tidak pernah kerja tapi hanya mengomel dan memaksakan
pendapatnya. Kalau dia ikut, nanti malah merusak suasana!”
Teng... teng... teng!!
Bel masuk berbunyi
anak-anak bergegas masuk ke kelas dan menunggu guru untuk memulai pelajaran.
Sepanjang pelajaran, Dita berdiam diri. Tidak keluar satu kata pun dari
mulutnya.
“Tumben, kamu diam saja. Ada apa?” tanya Lala khawatir.
“Tidak apa-apa, lagi malas omong saja” jawab Dita lesu.
Akan tetapi, diam-diam Dita berpikir.
Aku marah-marah karena lapar dan mengantuk. Aku mengantuk karena kurang tidur.
Aku kurang tidur karena terlalu asyik menonton film. Hatiku kesal karena
dimarahi Mama. Mama memarahiku karena sulit dibangunkan. Karena suasana hatiku
tidak baik, aku menjadi sosok yang menyebalkan. Karena itu, Fyi tidak mau
sekelompok denganku.
Diam-diam, Dita melirik ke sebelahnya. Dilihatnya wajah Lala yang manis dan
menyenangkan yang memang selalu begitu. Lala bahkan sangat sabar jika Dita
sedang marah-marah.
Waktu istirahat, Lala bercerita tentang Fyi yang mengajaknya satu kelompok
pada tugas kelompok TIK.
“Karena dia tidak mengajakmu, kupikir lebih baik aku tidak ikut!”
Dita terkejut. Ia lalu menggeleng.
“Jangan Lala, kamu gabung dengan kelompok Fyi saja!” kata Dita lembut.
“Sebenarnya, aku mendengar percakapan kalian
tadi pagi”
Kini, giliran Lala yang terkejut. Dita pun mulai
bercerita kalau ia baru menyadari kalau perbuatan atau sikapnya selama ini
sangat mengganggu teman-temannya yang membuat mereka enggan berteman dengannya.
Sikapnya mungkin sangat menyebalkan. Karena disaat teman-temannya sedang
bekerja keras menyelesaikan tugas kelompok, ia malah main-main sendiri dan
tidak serius dalam mengerjakan tugas.
“Lala, maaf ya kalau sikapku selama ini sangat
menyebalkan dan membuatmu kesal. Tapi aku juga terima kasih sekali karena
selama ini kamu mau menjadi temanku!” kata Dita.
“Mulai sekarang aku akan berusaha untuk
berubah! Jika ada yang membuatku kesal aku akan berusaha untuk bersabar, dan
kebiasaan burukku yang mengganggu, aku akan berusaha untuk menghilangkannya!
Tolong bantu temanmu ini untuk menjadi lebih baik!!”
Lala terkekeh senang sekaligus bahagia melihat
Dita sangat bersemangat.
“Hahaha.. Baiklah-baiklah aku akan terus
bersamamu, kita akan bersama-sama mengintropeksi diri kita dan merubahnya
menjadi lebih baik”
“Tapi.... berubah itukan susah, kita harus memulainya
dengan yang mudah dulu, misalnya seperti mengerjakan tugas kelompok sesuai
dengan bagiannya masing-masing, bagaimana?” goda Lala.
“Aaah, Lala. Baiklah sepulang sekolah nanti
aku akan langsung menyelesaikannya!”