Kamis, 16 Maret 2017

Cerpen Tentang Persahabatan "Berubah"

Berubah
(Oleh : D. Z./08)

Sudah jam sembilan malam lebih lima belas menit. Tubuh Dita sudah lelah, matanya pun sudah mulai memerah, tetapi ia memaksakan dirinya untuk terus menonton film disney kesukaannya di laptop warna putih susu miliknya. Ia penasaran akhir ceritanya.
“Dita, sudah jam berapa ini? Ayo cepat tidur!!” Mama mengagetkanku.
“Aaah, Iya iya sebentar lagi Maa” jawab Dita kesal.
“Dita kalau kamu tidurnya kemalaman terus besok dibangunin masih ngantuk pasti kamu kesal kan?” kata Mama lagi.
“Lalu, nanti kamu berangkat sekolah sambil marah-marah”
Dita terpaksa mematikan laptopnya dan tidur. Mama pun mematikan lampu kamar Dita lalu pergi menutup pintu dengan rapat. Setelah mendengarkan dengan seksama, dan yakin kalau semua orang sudah tidur, Dita meraih hpnya di meja sisi tempat tidurnya. Lalu, ia bermain game. Uuuh, sebenarnya Dita sudah sangat terkantuk-kantuk tapi ia enggan  tidur. Waktu sudah menunjukkan jam dua belas kurang lima menit saat Dita melirik jam dinding miliknya.
Tepat seperti perkiraan Mama, Dita kesal dan marah-marah saat dibangunkan esok paginya.
“Aaah, lima menit lagi Maa. Aku kan masih ngantuk” Dita menarik selimut. Tetapi Mama menarik lagi selimutnya dan memaksanya bangun.
“Lihat jamnya, sekarang sudah pukul enam. Kamu bisa terlambat” kata Mama dengan nada tinggi.
Dengan cemberut, Dita pun bangun. Setelah selesai mandi dan bersiap ia pun berangkat sekolah dengan mata masih mengantuk. Dita sarapan beberapa sendok saja, itu pun disuapi Mama sambil ia bersiap tadi. Tapi tadi ia belum sempat minum, hatinya pun kesal.
Dita pergi ke halte bus. Hufttt, karena ini awal tahun ajaran baru bus pun penuh semua. Terpaksa Dita menunggu, sudah tiga bus lewat tapi ia tidak bisa naik saking penuhnya. Rasa kesalnya bertambah. Dua anak yang mungkin seumuran dengan Dita ikut duduk di halte. Mereka bercanda tawa dengan suara yang keras. Mereka mengganggu sekali, cepatlah pergi dari sini, umpat Dita dalam hati.
Sesampai di sekolah, ternyata belum terlambat. Dita sangat lega.
“Oh ya, aku kan punya biskuit yang belum aku makan kemarin” gumam Dita membayangkan rasa laparnya bisa teratasi dengan biskuit cokelat yang lezat.
Kelasnya berada di lantai dua, ia harus menaiki tangga. Dita, ayo semangat kamu pasti bisa mencapai puncaknya, ucapnya dalam hati. Hal yang paling menyebalkan bagi Dita adalah naik turun tangga. Deg! Dita terkejut dan refleks membalikkan badannya.
“Ya La? Kamu ikut kelompok tugas bahasa indonesia sama aku saja, Risa dan Fata juga ikut. Daripada dengan Dita. Dita itu kan nggak pernah kerja, main-main terus” terdengar suara Fyi.
“Yaaa, kan, enggak enak kalau aku enggak ngajak Dita..” kata Lala, teman sebangku Dita.
“Aaah, biarin. Dia tidak pernah kerja tapi hanya mengomel dan memaksakan pendapatnya. Kalau dia ikut, nanti malah merusak suasana!”
          Teng... teng... teng!!
           
Bel masuk berbunyi anak-anak bergegas masuk ke kelas dan menunggu guru untuk memulai pelajaran.
Sepanjang pelajaran, Dita berdiam diri. Tidak keluar satu kata pun dari mulutnya.
“Tumben, kamu diam saja. Ada apa?” tanya Lala khawatir.
“Tidak apa-apa, lagi malas omong saja” jawab Dita lesu.
Akan tetapi, diam-diam Dita berpikir. Aku marah-marah karena lapar dan mengantuk. Aku mengantuk karena kurang tidur. Aku kurang tidur karena terlalu asyik menonton film. Hatiku kesal karena dimarahi Mama. Mama memarahiku karena sulit dibangunkan. Karena suasana hatiku tidak baik, aku menjadi sosok yang menyebalkan. Karena itu, Fyi tidak mau sekelompok denganku.
Diam-diam, Dita melirik ke sebelahnya. Dilihatnya wajah Lala yang manis dan menyenangkan yang memang selalu begitu. Lala bahkan sangat sabar jika Dita sedang marah-marah.
Waktu istirahat, Lala bercerita tentang Fyi yang mengajaknya satu kelompok pada tugas kelompok TIK.
“Karena dia tidak mengajakmu, kupikir lebih baik aku tidak ikut!”
Dita terkejut. Ia lalu menggeleng.
“Jangan Lala, kamu gabung dengan kelompok Fyi saja!” kata Dita lembut.
“Sebenarnya, aku mendengar percakapan kalian tadi pagi”
Kini, giliran Lala yang terkejut. Dita pun mulai bercerita kalau ia baru menyadari kalau perbuatan atau sikapnya selama ini sangat mengganggu teman-temannya yang membuat mereka enggan berteman dengannya. Sikapnya mungkin sangat menyebalkan. Karena disaat teman-temannya sedang bekerja keras menyelesaikan tugas kelompok, ia malah main-main sendiri dan tidak serius dalam mengerjakan tugas.
“Lala, maaf ya kalau sikapku selama ini sangat menyebalkan dan membuatmu kesal. Tapi aku juga terima kasih sekali karena selama ini kamu mau menjadi temanku!” kata Dita.
“Mulai sekarang aku akan berusaha untuk berubah! Jika ada yang membuatku kesal aku akan berusaha untuk bersabar, dan kebiasaan burukku yang mengganggu, aku akan berusaha untuk menghilangkannya! Tolong bantu temanmu ini untuk menjadi lebih baik!!”
Lala terkekeh senang sekaligus bahagia melihat Dita sangat bersemangat.
“Hahaha.. Baiklah-baiklah aku akan terus bersamamu, kita akan bersama-sama mengintropeksi diri kita dan merubahnya menjadi lebih baik”
“Tapi.... berubah itukan susah, kita harus memulainya dengan yang mudah dulu, misalnya seperti mengerjakan tugas kelompok sesuai dengan bagiannya masing-masing, bagaimana?” goda Lala.
“Aaah, Lala. Baiklah sepulang sekolah nanti aku akan langsung menyelesaikannya!”


0 komentar:

Posting Komentar

 
Goresan Pena Ira Blogger Template by Ipietoon Blogger Template